Jumat, 19 Oktober 2012

Politik Luar Negeri Jepang Setelah Kegagalan Ekspansinya ke Cina


Arti Penting Asia Tenggara Bagi Jepang
Setelah gagal di Cina, Jepang kini mulai mengarahkan perhatiannya ke selatan (Asia Tenggara) yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan kolonial Barat. Birma dan Malaya dikuasai Inggris, Indocina di tangan Perancis, Filipina oleh Amerika, dan Hindia Belanda (Indonesia) dalam cengkeraman Belanda.
Asia Tenggara mempunyai arti penting sebagai daerah sumber bahan mentah dan daerah pasaran hasil industri Jepang. Prioritas utama Jepang adalah Indonesia. Hal ini terbukti dalam bulan Mei 1940, Menteri Luar Negeri Jepang, Arita, menyodorkan nota kepada duta besar Belanda di Tokyo. Nota tersebut memuat perincian mengenai keperluan Jepang akan bahan mentah dari Indonesia, yaitu timah, karet, minyak, bauksit, nikel, besi, mangaan, wolfram, dan lain-lain.1)
Indonesia di mata Jepang merupakan daerah yang amat potensial terutama kekayaan alamnya. Sebelumnya telah terjalin hubungan antara Jepang dengan Indonesia, khususnya di bidang ekonomi. Hasil industri Jepang membanjiri Indonesia utamanya setelah krisis ekonomi dunia (Malaise) dalam tahun 1930-an.
Usaha untuk menguasai Asia Pasifik tidak hanya dilakukan dengan mengekspor sebanyak-banyaknya hasil industri ke kawasan ini, bahkan didatangi imigran-imigran Jepang dalam jumlah yang cukup besar. Para imigran ini melakukan perdagangan. Sebagian di antaranya adalah opsir Jepang yang menyamar untuk mengadakan persiapan bagi rencana pendudukan mereka.
Munculnya Ide Ekspansi ke Selatan (Asia Tenggara)
Usul mengenai ekspansi ke selatan mulai populer sesudah Jepang menemui jalan buntu di Cina. Baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut yakin bahwa mereka tidak memiliki kapasitas untuk mengalahkan Cina. Hanya saja di antara mereka terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan langkah selanjutnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Edwin O. Reischauer:
The navy was primarily interested in a strategy directed southward toward Indonesian oil and the bases of Anglo-American naval power, while the army thought in terms of nothern strategy aimed at expansion on the nearby continent and against Soviet land power.2)
Angkatan Darat berniat menyerbu Mongolia untuk selanjutnya menduduki Rusia dengan perhitungan Stalin sedang sibuk membenahi partai Komunis Rusia. Sementara Angkatan Laut lebih tertarik untuk mendapatkan sumber-sumber kekayaan alam di Asia Tenggara. Namun kemampuan angkatan bersenjata Soviet menghambat kegiatan militer Jepang di perbatasan Manchuria-Siberia di tahun 1939, mencegah berkembangnya perpecahan ini lebih lanjut.
Bagi mayoritas jenderal Jepang mulai jelas bahwa rencana ekspansi ke utara dalam situasi seperti itu nyata-nyata tidak ril. Lalu pusat perhatian dialihkan ke selatan. Dan ini dipertahankan terus sampai Perang Dunia II, hingga tak ada alasan bagi Rusia untuk menyerang Jepang karena wilayahnya tidak diduduki.
Perhatian Jepang terhadap Asia Tenggara makin serius dalam tahun 1940. Perang Dunia II yang berkecamuk di Eropa serta kemenangan-kemenangan Jerman menyita seluruh perhatian dan kekuatan negara-negara Eropa, sehingga wilayah jajahan mereka di Asia dalam keadaan lemah tak terlindungi. Selain itu, dalam bulan Mei, Juni dan Juli agitasi kaum ekstrim nasionalis di Jepang memuncak menuntut pemerintahnya memperluas secara fisik pengaruhnya ke daerah-daerah selatan.3)
Minat AL Jepang atas wilayah Asia Tenggara sudah ada sejak lama. Uchida Ryohei pendiri Black Dragon Society atau Kokuryukai, sejak muda sudah tertarik pada Filipina, ketika negara ini mengadakan pemberontakan terhadap Spanyol dan perang terhadap AS pada tahun 1895. Ia menerima laporan tentang gerakan kemerdekaan Filipina dan sangat tertarik serta berusaha mencari bantuan bagi gerakan tersebut. AL Jepang terpengaruh olehnya, karena ketika itu mulai mucul pandangan bahwa Jepang memerlukan pangkalan-pangkalan di laut Asia Timur demi pertahanan kekaisaran Jepang.4)
Seorang bekas Kapten Armada Jepang, Mitsuo Fuchida mengakui terus terang, bahwa sejak menjadi murid di Akademi Angkatan Laut dalam tahun 1921, para pelajar di akademi tersebut sudah diindoktrinasikan bahwa AL Jepang harus menuju ke selatan, ke Filipina, Malaya, dan Indonesia.5)
Jadi pada dasarnya Jepang, khususnya di kalangan AL sudah sejak lama menaruh perhatian dan merencanakan ekspansi ke Asia Tenggara, tetapi baru populer sesudah kegagalan militernya di Cina. Ini berarti bahwa walaupun tidak gagal di Cina, Jepang sudah dipastikan akan menyerbu Asia Tenggara, mengingat “Rencana Tanaka” dan memperhatikan cita-cita Hakko-ichi-u serta perkembangan politik di Asia Pasifik, nampaknya perang Pasifik tak dapat dielakkan lagi. Namun kegagalan ekspansi ke Cina telah mempercepat proses pecahnya Perang Pasifik.
Langkah-langkah Politis Menuju Ekspansi ke Asia Tenggara
Situasi dunia menjelang akhir tahun 1939 semakin tidak menentu terutama di Eropa, dan akhirnya pada bulan September 1939 pecahlan Perang Dunia II. Kabinet Abe menyatakan bahwa Jepang tidak akan turut campur tangan dalam peperangan di Eropa.6)
Mulanya memang Jepang tidak ikut campur tangan dan memusatkan perhatiannya di Cina. Tetapi setahun kemudian yaitu pada tahun 1940 diadakan persekutuan dengan Jerman dan Italia. Pakta Tiga Pihak (Tripartite Pact) berisikan perjanjian saling bantu jika salah satu pihak diserang oleh negara yang belum ikut perang. Pada bulan Juni 1940 Perancis jatuh di bawah kekuasan Jerman dan membentuk pemerintahan boneka di Vichy. Sebelum Inggris mengambil alih wilayah Indocina dari kekuasaan Vichy, armada Jepang lebih dulu berada di perairan Indocina dan menuntut hak mendaratkan pasukannya.
Selanjutnya dalam bulan September 1940 Jepang mendaratkan pasukannya dan menduduki Indocina, bahkan bergerak memasuki wilayah selatan Cina sejauh 120 mil hingga terputus jalur bantuan untuk Chunking melalui Hanoi. Inggris terpaksa menutup “Jalan Birma” ke Cina.
Pada tahun 1941 diadakan perjanjian Jepang-Perancis Vichy. Perjanjian yang dipaksakan oleh pihak Jepang ini isinya adalah Jepang diperkenankan mempergunakan dan menjaga semua pelabuhan di sepanjang pantai Indocina.7) Inilah yang nantinya dimanfaatkan untuk serangan ke Singapura, Indonesia, dan Filipina. Dengan demikian Jepang telah melaksanakan tahap pertama ekspansinya dengan membangun batu loncatan miiter bagi wilayah selatan tanpa perang. Keberhasilan ini hendak diusahakan juga di Indonesia dan daerah-daerah jajahan Inggris lainnya. Tetapi dengan pengalaman Indocina, Inggris dan Belanda lebih waspada dan bersatu di belakang AS.
Untuk mengamankan usahanya ke Asia Tenggara dari pukulan belakang oleh Uni Soviet, maka pada tahun 1941 Jepang menandatangani pakta non-agresi dengan Uni Soviet.8) Padahal setahun sebelumnya Jepang telah menandatangani persekutuan dengan Jerman dan Italia. Dengan adanya perjanjian ini, Jepang relatif bebas bergerak ke selatan, ditambah lagi kesibukan Rusia menghadapi Jerman di Eropa.
Pada kesempatan kunjungan Matsuoka (Menteri Luar Negeri Jepang) ke Eropa (Berlin-Roma-Moskow), Jepang mendapat pengakuan dari Hitler sebagai “Pemimpin Asia Raya”, sedangkan Hitler menamakan dirinya “Pemimpin Eropa”, dan Mussolini sebagai “Pemimpin Afrika”. Hitler mendorong juga Matsuoka untuk menyerang koloni-koloni Inggris dan Belanda pada kesempatan itu bersamaan dengan suatu invasi Jerman ke Inggris. Namun Jepang masih bersikap wait and see. Jepang masih melihat-lihat perkembangan situasi dan menunggu saat yang tepat untuk bertindak. Hingga akhirnya memutuskan untuk terjun dalam Perang Dunia II pada bulan Desember 1941.
Daftar Referensi
1)   Onghokham, 1989. Runtuhnya Hindia Belanda. Jakarta: Gramedia, hal. 2
2)   Edwin O. Reischauer, 1970. Japan The Story of A Nation. Tokyo: Charles F. Tuttle Co
      Bunkyo-ku, hal. 193
3)   Onghokham, loc.cit.
4)   Ibid., hal. 16
5)   Aujang Peng Koen, 1960. Perang Pasifik (1941-1945). Djakarta: Keng-Po, hal. 235
6)   Ryosuke Ishii, 1989. Sejarah Institusi Politik Jepang. Diterjemahkan oleh J.R. Sunaryo.
      Jakarta: Gramedia, hal. 162
7)   Soebantardjo, 1958. Sari Sedjarah Asia-Australia. Jogjakarta: Bopkri, hal. 20
8)   Sayidiman Suryohadiprojo, 1987. Belajar dari Jepang. Jakarta: UI Press, hal. 278
Artikel Terkait dengan Sejarah



Sameera ChathurangaPosted By Sameera Chathuranga

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat contact me

Thank You

0 komentar:

Poskan Komentar