Jumat, 19 Oktober 2012

Sikap Kaum Pergerakan Menghadapi Kedatangan Jepang


Munculnya Jepang sebagai negara imperialis di Asia pada penghujung abad ke-19 merupakan suatu fenomena yang tidak dapat diremehkan begitu saja, khususnya bagi negara-negara yang terletak di kawasan Asia Pasifik. Cita-cita Jepang untuk menjadi “pewaris tunggal” di Asia dilaksanakan melalui serangkaian petualangan militer. Dimulai dengan insiden Mukden (1931) untuk merebut Manchuria, kemudian menyerbu Cina (1937), selanjutnya menduduki Indocina (1941). Jalan menuju ke Asia Tenggara sudah terbuka dan Jepang tinggal menunggu saat yang tepat untuk membuka Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya yang direncanakannya dalam rangka merebut sumber-sumber minyak di kawasan Asia Tenggara, terutama di Indonesia.
Kegagalan perundingan dagang antara Jepang dan Hindia Belanda pada pertengahan tahun 1941 adalah suatu petunjuk akan pecahnya perang. Delegasi Jepang yang dipimpin oleh Matsuoka dan wakil pemerintah Belanda yang dipimpin oleh Van Mook terlibat dalam pertentangan politik yang berakhir dengan kegagalan sesudah enam bulan mengadakan perundingan.
Mulanya pemerintah Hindia Belanda nampaknya tidak begitu khawatir mengenai percaturan politik di Asia Pasifik. Di dalam negeri mereka telah berhasil mengarahkan gerakan nasionalis ke jalan yang moderat dan dengan hati-hati mengucilkan mereka dari massa rakyat. Di luar pemerintah Belanda sedikit banyak merasa terjamin menghadapi keadaan politik internasional di Pasifik dengan adanya kesatuan dalam gabungan kekuatan A-B-C-D (America-Britain-China-Dutch).1)
Keyakinan tersebut mengakibatkan mereka dapat mengabaikan begitu saja tuntutan-tuntutan kaum pergerakan Indonesia. Jurang pemisah antara rakyat dengan pemerintah makin bertambah lebar dan tak terjembatani. Tak dapat dihindari, kaum pergerakan kini mengarahkan perhatiannya pada Jepang yang dianggap dapat mengakhiri kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia. Namun hal ini bukan berarti bahwa mereka mendukung ekspansi Jepang, apalagi bekerja sama dalam menggulingkan pemerintahan Hindia Belanda. Bagaimanapun juga sikap anti fasisme menyebabkan mereka kebih berhati-hati dalam menanggapi keberadaan Jepang. Hanya karena kekecewaan terhadap sikap pemerintah yang menghalangi mereka membantu pihak Belanda menghadapi Jepang.
Ratulangi, M.H. Thamrin, Soetardjo, dan lain-lain di Nationale Commentaren dan di penerbitan-penerbitan lainnya, agak khawatir dan menyuarakan peringatan akan keinginan ekspansionisme Jepang, tetapi di samping itu, di latar belakang tulisan-tulisan mereka tercermin suara gembira dan puas bahwa negara-negara lain ikut campur urusan Indonesia.2)
Sikap ini tercermin juga dari pernyataan Soebardjo, “Bagaimana Belanda menolak tuntutan ini dan itu dari kita (pergerakan), mereka (Belanda) sama sekali menganggap sepi gerakan Indonesia, tentu kita lalu melihat pada Jepang”.3)
Keyakinan akan pecahnya Perang Pasifik yang akan mengantarkan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaannya, sebenarnya sudah diramalkan oleh tokoh pergerakan. Bung Hatta pada saat pelantikannya sebagai ketua Perhimpunan Indonesia tahun 1926 mengucapkan pidato yang berjudul “Economische Wereldbouw en Machstegenstellingen” (Bangunan Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan).  Dalam pidatonya Bung Hatta mengupas mengenai kemungkinan pecahnya Perang Pasifik, antara lain mengatakan:
Semenjak Pasifik menunjukkan perkembangan ekonominya, sejak itu ia masuk pada pusat ekonomi dunia. Pertentangan kekuasaan sudah mulai, yang akan berkembang menjadi drama-drama bangsa-bangsa yang hebat, yang di masa sekarang kita belum dapat menggambarkannya. Karena apabila peperangan Pasifik sekali terjadi tidak saja akan merupakan pertempuran berdarah antara Timur dan Barat, tetapi juga akan menyudahi kekuasaan bangsa-bangsa kulit putih atas bangsa-bangsa kulit berwarna…. 4)
Sejak tahun 1929 Soekarno juga telah menyatakan keyakinannya bahwa Perang Pasifik akan mempercepat tercapainya kemerdekaan. Hal ini diakui pula oleh M.H. Thamrin ketika dalam rapat tanggal 7 Desember 1939 ia mengatakan:
Dalam waktu yang tidak lama lagi Indonesia akan memperoleh kemerdekaannya. Soal kemerdekaam Indonesia juga besangkut paut dengan masalah internasional, di mana pada waktu ini sedang berkecamuk Perang Dunia II.5)
Agaknya keyakinan akan pecahnya Perang Pasifik yang akan mengakhiri kekuasaan Belanda di Indonesia ditambah dengan sikap pemerintah yang tidak mengindahkan tuntutan kaum pergerakan, mendorong mereka untuk memerhatikan Jepang yang diharapkan dapat memberikan perkembangan-perkembangan politik baru.
Masa tahun 1940-1942, pertentangan antara pemerintah dengan fraksi-fraksi nasional di volksraad semakin meruncing dan menciptakan keadaan yang mencemaskan pemerintah kolonial Belanda. Menghadapi situasi demikian, pemerintah Hindia Belanda melakukan tindakan pengamanan terhadap tokoh pergerakan yang dianggap berbahaya. Pada bulan Januari 1941 pihak kepolisian menangkap Husni Thamrin dan Douwes Dekker yang dianggap mempunyai hubungan dengan kaum pergerakan yang radikal dan Jepang.
Akhirnya ketegangan di Pasifik akibat pertentangan kepentingan antara Jepang dengan pihak Barat atas Asia pecah menjadi perang ketika Jepang memulai serangannya ke Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941. Dengan kecepatan yang mengagumkan Jepang telah menduduki basis-basis Amerika di Pasifik (Kepulauan Guam dan Wake), kemudian Hongkong dan terus ke Filipina. Awal Januari 1942 penyerbuan Jepang ke Indonesia dimulai. Kini kekuasaan Belanda pada saat-saat terakhirnya.
Ketika pecah perang tersebut, Hatta dari tempat pembuangannya di Banda, menulis sebuah artikel yang menyerukan perlawanan terhadap Jepang. Baginya tidak ada perbedaan antara imperialisme Eropa dengan imperialisme Asia. Dalam artikelnya, Hatta mengatakan:
Kalau kita yakin bahwa cita-cita kita dalam bahaya karena tindakan Jepang, tidak ada pendirian yang terpaku, melainkan menentang imperialisme Jepang itu. Sekalipun kita tahu, boleh jadi ia akan menang masih wajib bagi kita mempertahankan cita-cita yang terancam itu. Lebih tenggelam dengan cita-cita daripada hidup bercermin bangkai.6)
Sementara Soekarno yang merasa yakin bahwa peperangan itu akan mengantarkan Indonesia mencapai kemerdekaannya, seruan itu tidak terpikirkan. Demikian pula tokoh-tokoh pergerakan lainnya mengambil sikap pasif.
Dalam pertempuran di laut Jawa (27 Pebruari-1 Maret 1942), balatentara Jepang berhasil menghancurkan armada gabungan Belanda, Inggris, Australia dan Amerika. Rakyat Indonesia hanya sedikit sekali memberikan bantuan, bahkan kadang-kadang dengan senang hati berbalik melawan serdadu Belanda.7)
Pada tanggal 9 Maret 1942 Jenderal Ter Poorten, Panglima Tentara Belanda di Indonesia menandatangani penyerahan tak bersyarat (kapitulasi) di Kalijati kepada Jenderal Imamura. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Belanda di Indonesia.
Daftar Referensi:
1)  Ahmad Soebardjo Djoyaodisuryo, S.H. 1978. Kesadaran Nasional Sebuah Otobiografi.
     Jakarta: Gunung Agung, hal. 224
2)  Onghokham. 1989. Runtuhnya Hindia Belanda. Jakarta: Gramedia, hal. 118
3)  Ibid., hal. 119
4)  I. Wangsa Widjaya. 1988. Mengenang Bung Hatta. Jakarta: Haji Masagung, hal. 32
5)  Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan. nd. Oto Iskandar Dinata Riwayat Hidup dan 
     Perjuangannya. Jakarta: Bhratara, hal. 40
6)  Bernhard Dahm. 1987. Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta: LP3ES, hal. 263
7)  M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan oleh Drs. Dharmono
     Hardjowidjono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hal. 294



Sameera ChathurangaPosted By Sameera Chathuranga

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat contact me

Thank You

0 komentar:

Poskan Komentar