Jumat, 19 Oktober 2012

Serangan Jepang Terhadap Pearl Harbour (1941)


Serangan Jepang atas Pearl Harbour dilancarkan pada hari Minggu tanggal 7 Desember 1941 (menurut waktu Amerika). Jepang sengaja memilih hari itu karena tahu pasti bahwa kapal-kapal Angkatan Laut Amerika Serikat beserta semua awaknya akan datang berakhir pekan (weekend) ke sana. Dari konsulat Jepang di Honolulu diterima kabar lengkap mengenai letak dan banyaknya kapal perang yang ada di Pearl Harbour saat itu.
Armada Jepang dengan 6 kapal induk sebagai tulang punggung sudah meninggalkan pelabuhan Jepang yang terakhir sejak tanggal 26 Nopember 1941 dan menempuh lautan Pasifik Utara yang berbadai. Sementara itu para pilot pesawat tempur sudah mempelajari peta bumi Pearl Harbour (di Pulau Oahu) dengan begitu baik. Pada tanggal 7 Desember dini hari, keenam kapal induk yang tergabung dalam Kido Butai (Satuan Kapal Induk Penyerang Pearl Harbour) sudah berada di sekitar 200 mil di utara Pearl Harbour dan mulai mengadakan persiapan serangan.
Pukul 05.45, Letnan Yoshio shiga, pimpinan armada tempur Mitsubishi A6M2 Zero mulai meluncur dari landasan kapal induk Kaga. Keberangkatannya langsung disusul oleh 42 Zero, 49 pesawat pembom berukuran sedang, 51 pesawat pembom tempur Aichi D3A Val, dan 40 pesawat pembom torpedo Nakajima B5N Kate.1)
Sebenarnya iring-iringan pesawat tersebut sudah diketahui kedatangannya oleh penjaga pos terdepan di ujung utara pulau Oahu, namun mereka mengira titik-titik yang ada dalam layar radar itu adalah Flying Fortresses yang datang dari daratan AS. Hari itu memang direncanakan selusin pesawat pembom B-7, yang dikenal dengan nama Flying Fortresses dari California akan mendarat di Hickam Field, Pearl Harbour.
Sementara itu di Washington, pegawai kedutaan besar Jepang mengalami kesulitan dalam membuka kode dan menerjemahkan jawaban Tokyo, padahal setengah jam lagi, yakni pukul 13.00, Dubes Jepang Admiral Nomura Kichisaburo sudah harus bertemu dengan Menlu AS Cordell Hull untuk menyerahkan nota jawaban dari Tokyo. Teks yang sebenarnya tentang pesan yang disampaikan berbunyi: “mengingat sikap Pemerintah Amerika, Pemerintah Jepang dengan menyesal menganggap pencapaian suatu persetujuan melalui perundingan yang lebih lanjut, suatu hal yang tidak mungkin”.2)
Ini adalah indikasi yang cukup jelas tentang suatu pernyataan perang. Di sini muncul pertanyaan, mengapa Jepang begitu bersitegas mengirim berita itu pada pukul 13.00? pukul 13.00 di Washington berarti pukul 07.30 waktu Hawaii (perbedaan waktu antara Hawaii dengan Washington lima setengah jam). Padahal pukul 07.53 mereka sudah melancarkan serangan, jadi hanya memberikan beberapa menit kepada AS mengenai kemungkinan serangan itu. Kesengajaan ini menunjukkan bahwa serangan atas Pearl Harbour merupakan usaha “pembokongan” pihak Jepang terhadap AS. Dan keterlambatan pegawai kedutaan besar Jepang menerjemahkan nota sehingga baru diserahkan oleh Nomura-Kurusu kepada Hull pada pukul 14.20 (satu jam sesudah serangan Pearl Harbour) semakin memperbesar tindakan pembokongan Jepang tersebut.
Tentang serangan Jepang atas Pearl Harbour secara singkat dapat diceriterakan sebagai berikut:
  1. Pukul 07.53, Fuchida menghubungi Nagumo: Tora … Tora … Tora …! Ia mengulang kembali kode yang berarti “harimau”, sebagai tanda serangan akan dimulai. Kemudian ia melepaskan sinyal biru sebagai tanda serangan. Letnan Mori mulai menembakkan senapan mesinnya ke arah 200 pesawat terbang yang diparkir di hanggar Wheeler Field.
  2. Pukul 07.55, konvoi pesawat pembom Jepang menjatuhkan torpedo. Kapal perang Oklahoma tergetar dan miring 30 derajat ke kiri ketika lambung kirinya dihantam empat torpedo yang menyebabkan lebih dari 400 orang terjebak hidup-hidup di dalamnya. Setelah Oklahoma menyusul California, kapal pertama dari deretan tujuh kapal perang besar AS yang sedang berlabuh di tenggara Pulau Ford. Tak lama kemudian pesawat pembom berukuran sedang melepaskan bom tepat di atas Maryland yang berada di antara Pulau Ford dan Oklahoma. Berikutnya Tennessee yang berlabuh berdampingan dengan West Virginia mengalami nasib seperti Maryland. Di belakang kedua kapal perang itu berlabuh Arizona yang dihajar dengan lima bom sekaligus. Satu di antaranya jatuh tepat di tempat penyimpanan bahan peledak dimana terdapat sekitar 800 kg bubuk hitam (bahan peledak yang paling berbahaya) yang menyebabkan Arizona meledak bagai gunung meletus dan hampir tak ada dari 1.100 orang dalam kapal itu yang selamat. Di urutan terakhir adalah Nevada yang kena torpedo di haluan kiri dan dekat buritan.
  3. Pukul 08.55, serangan gelombang kedua datang dari arah timur. Delapan puluh pesawat pembom-tempur, 50 pembom torpedo, dan 36 pesawat tempur mendekati Oahu. Keseratustujuhpuluh pesawat tersebut bergerak menuju deretan kapal perang di dekat dok kering No. 1 dimana terdapat 8 kapal perang yang ditambatkan di sana, termasuk Pennsylvania. Salah satu target utama adalah Arizona yang bergerak peerlahan menuju laut terbuka. Dalam beberapa menit enam bom menghantamnya. Tetapi dengan bantuan dua kapal tunda, kapal tersebut berhasil ditarik dan ditambatkan di dekat dok kering tempat Pennsylvania ditambatkan.
  4. Pukul 09.45, api menyala di mana-mana. Kapal perang Arizona, Oklahoma, dan California tenggelam di tempat dimana kapal itu ditambatkan. Nevada kandas. Maryland, Tennessee dan Pennsylvania (di dok kering) dalam keadaan rusak. Di Pearl Harbour hari itu, 18 kapal perang AS tenggelam atau rusak berat, 188 pesawat tempur AS dihancurkan dan 159 rusak, 2.403 warga AS tewas. Sedang di pihak Jepang kehilangan 29 pesawat, 5 kapal selam kecil, 9 kapal selam besar dan 45 personil udara tewas.3)
Serangan terhadap Pearl Harbour membawa kerugian yang cukup besar di pihak AS. Serangan ini dapat berhasil karena tidak diduga secepat itu, seperti dikemukakan oleh Andrew Tully bahwa serangan tiba-tiba Jepang yang menghancurkan armada Amerika di Pasifik itu bukan saja merupakan suatu kejutan yang hebat bagi setiap warga negara, tetapi juga merupakan pelajaran pahit bagi para pejabat pemerintahan bahwa sesungguhnya suatu negara yang begitu kaya dan berkuasa seperti Amerika, tak seharusnya dapat diperdaya dan diserang begitu saja tanpa diduga.4)
Sebenarnya AS sudah melihat tanda-tanda kemungkinan serangan dari Jepang. Hal ini dapat dilhat dari laporan Joseph C. Grew (Dubes AS di Tokyo) dalam bulan Agustus 1941 yang memperingatkan pemerintah di Washington tentang kemungkinan serangan mendadak dari Jepang. Demikian pula tanggal 6 Desember 1941, ketika armada Jepang berlayar mendekati Selat Malaka. Namun mereka semua mengira bahwa Jepang akan menyerang Singapura yang pada waktu itu dikuasai oleh Inggris. Saat itu Menteri Angkatan Laut AS, P.H. Nox mengajukan pertanyaan: “apakah Jepang akan menyerang kita?” Laksamana K. Turner atas nama Markas Komando menjawab: “Tidak. Mereka akan menyerang Inggris, mereka belum siap menyerang kita”.5) Dan tak seorang pun yang membantah laksamana tersebut.
Di AS saat itu ada kecenderungan pemikiran bahwa Jepang belum siap untuk perang dengan AS. Apalagi masih berlangsung perundingan-perundingan antara wakil Jepang dengan AS. Agaknya mereka tidak belajar dari pengalaman sejarah. Padahal sebelumnya, Jepang dalam tahun 1904 sudah membokong Rusia di Port Arthur begitu perundingan gagal. Demikian pula pada tahun 1937, tentara Jepang sudah menyerbu Cina tanpa menyatakan perang terlebih dahulu, dan ini kembali dipraktekkan 4 tahun kemudian di Pearl Harbour.
Serangan Jepang terhadap Pearl Harbour merupakan pertanda dimulainya Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Pada waktu itu juga Jepang memaklumkan perang kepada AS, Inggris, dan seluruh dominionnya. Amerika memaklumkan perang kepada Jepang tanggal 8 Desember 1941, Jerman dan Italia menyatakan perang pada AS tanggal 11 Desember 1941, AS menyatakan perang pada Jerman dan Italia tanggal 13 Desember 1941. Demikianlan Perang Pasifik pecah dan menjadi bagian dari Perang Dunia II.
Daftar Referensi:
1)  James Luhulima. “Tora … Tora … Tora …!” dalam Kompas, Sabtu 7 Desember 1991.
2)  Richard Deacon, 1986. Menyingkap Dinas Rahasia Jepang Kempei Tai. Terjemahan oleh Tim
     USA. Jakarta: Swadaya Aksara, hal. 295
3)  James Luhulima, op.cit., hal. 8, 12
4)  Andrew Tully. 1987. CIA. Terjemahan oleh Drs. Indranti. Bandung: Calvari, hal. 69
5)  M. Yusuf AS. “Tora, Tora, Maka Porak Porandalah Pearl Harbour” dalam Harmonis, Edisi 355
     (15-31 Januari 1987). Jakarta: Yayasan Bakti Pustaka, hal. 8



Sameera ChathurangaPosted By Sameera Chathuranga

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat contact me

Thank You

0 komentar:

Poskan Komentar